Korelasi antara Antropometri dan Caliper terhadap Kadar Hidrasi, Air, dan Minyak Kulit secara Segmental Correlation between Anthropometric Measures and Skinfold Caliper Measurements with Segmental Skin Hydration, Water, and Oil Levels
Isi Artikel Utama
Abstrak
Latar Belakang: Parameter antropometri, seperti IMT, lingkar tubuh, dan rasio distribusi lemak, serta pengukuran ketebalan lemak subkutan dengan caliper telah lama digunakan untuk menilai status gizi dan risiko metabolik, namun indikator sederhana yang dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi hidrasi dan kesehatan kulit secara praktis belum ada. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara parameter antropometri dan ketebalan lipatan kulit dengan kadar hidrasi, air, dan minyak kulit secara segmental pada populasi dewasa di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan metode potong lintang dengan melibatkan 135 responden yang menjalani pemeriksaan antropometri, pengukuran lipatan kulit menggunakan caliper, serta evaluasi kondisi kulit menggunakan skin analyzer pada kedua lengan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa hidrasi kulit tidak memiliki korelasi bermakna dengan seluruh parameter antropometri maupun ketebalan lemak subkutan, menegaskan bahwa hidrasi epidermal terutama dipengaruhi oleh integritas skin barrier dan mekanisme homeostatik stratum korneum. Sebaliknya, kadar air dan minyak kulit menunjukkan korelasi positif konsisten dengan lingkar leher dan lingkar betis, serta korelasi negatif dengan beberapa lipatan kulit, yang mengindikasikan bahwa massa otot segmental dan perfusi mikrovaskular berperan dalam mempertahankan kadar air dan aktivitas kelenjar sebasea, sedangkan akumulasi lemak subkutan cenderung menurunkan keduanya. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa ukuran tubuh global seperti IMT atau lingkar perut bukan prediktor utama karakteristik kulit, dan bahwa kualitas kulit lebih ditentukan oleh faktor lokal. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal serta integrasi parameter fisiologi kulit tambahan, seperti aliran darah, TEWL, dan biomarker epidermal, diperlukan untuk memperkuat pemahaman mekanistik dan mendukung pengembangan strategi intervensi dermatologis yang lebih presisi dan segmental.